JSN | BOGOR – Ketua Badan Peneliti Independen Kekayaan Penyelenggara Negara dan Pengawas Anggaran Republik Indonesia (BPI KPNPA RI) Bogor Raya, Rizwan Riswanto, mendorong Pemerintah Kabupaten Bogor untuk segera mengesahkan program “Segenggam Beras” sebagai bagian dari solusi konkrit pengentasan kemiskinan di wilayahnya.
Usulan ini muncul setelah Rizwan menyimak pemberitaan media daring dan melakukan diskusi bersama para aktivis serta pegiat sosial bahwa kabupaten bogor termasuk wilayah miskin ekstrem.
“Dari berbagai obrolan dan masukan teman-teman, lahir satu gagasan sederhana namun sangat bermakna: program ‘Segenggam Beras’. Gagasan ini lahir dari kepedulian terhadap warga yang masih hidup dalam kondisi pra-sejahtera,” ujar Rizwan, Senin (3/6/2025).
Program ini mengajak masyarakat untuk menyumbangkan sekitar segenggam beras per bulan secara sukarela. Sumbangan tersebut akan dikumpulkan dan disalurkan langsung kepada masyarakat miskin melalui skema gotong royong yang terstruktur dan transparan.
Rizwan menjelaskan, jumlah penduduk Kabupaten Bogor saat ini mencapai 5.627.021 jiwa. Jika 15 persen saja dari jumlah tersebut atau sekitar 844.053 orang ikut serta dan menyumbangkan beras dan kita asumsikan bahwa setiap warga memberikan 2 liter beras per bulan, maka akan terkumpul 1.688.106 liter beras setiap bulan.
Sementara jumlah warga pra sejahtera di Kabupaten Bogor berdasarkan data terakhir tercatat 446.800 jiwa. Dengan volume beras sebesar itu, maka setiap masyarakat pra sejahtera bisa menerima sekitar 3,78 liter beras per bulan.
“Ini angka yang luar biasa. Dan bukan tidak mungkin, sebagian warga akan menyumbangkan lebih dari 2 liter. Karena sifatnya sukarela, kita optimistis partisipasi bisa lebih besar dari yang kita perkirakan,” ungkap Rizwan.
Ia menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam mengesahkan program ini melalui regulasi resmi, seperti Peraturan Bupati (Perbup), agar pelaksanaan di lapangan berjalan rapi, akuntabel, dan tepat sasaran.
“BPI KPNPA RI Bogor Raya siap membantu dalam pengawasan, pendampingan teknis, serta memastikan distribusi beras dilakukan dengan adil dan transparan. Ini soal kemanusiaan, bukan sekadar kebijakan administratif,” tegasnya.
Rizwan pun mengajak semua elemen masyarakat untuk mendukung penuh program ini. Menurutnya, Segenggam Beras bukan hanya bentuk empati, tetapi juga bentuk nyata kekuatan kolektif dalam menjaga sesama.
“Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.”
(Al-Qur’an)
“Bayangkan, dari yang awalnya hanya segenggam, kini menjadi gelombang kebaikan yang bisa memberi makan ribuan warga miskin. Mari jadikan Bogor sebagai pelopor gerakan sosial yang berangkat dari hati dan dituntun oleh nilai-nilai agama,” tutupnya. (Andi)
