Penulis : Rizwan Riswanto
Bogor – Saya ingin bicara jujur. Karena kadang, yang terlalu sering disuguhkan justru bukan kejujuran, melainkan kenyamanan narasi.Setiap menjelang Idul Fitri, kita seperti menonton ulang film lama: harga naik, rakyat mengeluh, lalu pemerintah hadir dengan operasi pasar dan pernyataan bahwa semuanya “terkendali”.
Masalahnya, siapa yang sebenarnya merasa terkendali?Rakyat yang datang ke pasar tidak membawa kliping berita. Mereka membawa uang yang jumlahnya tetap, sementara harga terus berubah. Daging sapi yang seharusnya berada dalam batas wajar, kini melompat jauh. Ayam, cabai, minyak goreng semuanya seakan berlomba naik tanpa aba-aba.
Lalu kita disuruh percaya bahwa ini masih stabil.Stabil bagi siapa?Kalau stabil itu berarti harga bisa naik tapi tetap disebut terkendali, maka definisi stabil perlu ditinjau ulang. Jangan-jangan yang stabil bukan harga, tapi cara kita membungkus kenyataan.
Operasi pasar digelar. Spanduk terpasang. Pejabat turun. Kamera menyala. Semua terlihat bekerja. Tapi di dapur rakyat, yang bekerja justru kecemasan.Saya tidak menuduh. Tapi publik punya hak untuk bertanya: apakah operasi pasar ini benar-benar untuk menekan harga, atau sekadar untuk menunjukkan bahwa sesuatu sedang dilakukan?
Karena jika dampaknya tidak terasa luas, maka publik akan membaca dengan cara mereka sendiri, dan itu jauh lebih jujur daripada rilis resmi dari Pemda. Pedagang kecil sering menjadi kambing hitam. Dituduh “aji mumpung”. Padahal mereka hanya berada di ujung rantai yang paling lemah. Mereka bukan penentu harga, hanya penyampai kenaikan.
Yang jarang disentuh adalah hulu, distribusi, pasokan, dan permainan yang tidak terlihat oleh masyarakat biasa.
Di sinilah negara seharusnya hadir dengan tegas. Bukan sekadar hadir secara simbolik.Sebab rakyat hari ini tidak lagi butuh seremoni. Mereka butuh solusi.
Kita boleh sibuk dengan istilah “sidak”, “pemantauan”, dan “pengendalian”. Tapi selama harga di lapangan tetap tinggi, semua istilah itu hanya akan terdengar seperti jargon yang kehilangan makna.
Lebih keras lagi, publik mulai lelah.Lelah dengan janji stabilitas yang tidak mereka rasakan.Lelah dengan pola yang berulang tanpa perubahan berarti.Dan lelah dengan kesan bahwa yang lebih penting adalah terlihat bekerja, bukan benar-benar bekerja.
Saya percaya pemerintah mampu. Tapi kemampuan tanpa keberanian untuk jujur pada realitas, hanya akan menghasilkan kebijakan yang setengah jalan.Kalau memang harga naik, katakan naik.Kalau memang belum terkendali, akui belum.
Dari situ, kepercayaan bisa dibangun.Karena yang paling berbahaya bukan kenaikan harga, melainkan ketika kepercayaan publik ikut melambung… lalu jatuh tanpa kendali.Dan ketika itu terjadi, operasi pasar tidak akan cukup untuk memperbaikinya. (***)
